Kamis, 22 Mei 2014

Seks Bebas

Ingin Bahagia Sesaat Atau Bahagia Dunia Akhirat

PENGERTIAN SEKS BEBAS
Pengertian seks bebas menurut Kartono (1977) merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, dimana kebutuhan tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan sistem regulasi tradisional dan bertentangan dengan sistem norma yang berlaku dalam masyarakat.
Sedangkan menurut Desmita (2005) pengertian seks bebas adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan dorongan seksual yang berasal dari kematangan organ seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual, tetapi perilaku tersebut dinilai tidak sesuai dengan norma karena remaja belum memiliki pengalaman tentang seksual.
Nevid dkk (1995) mengungkapkan bahwa perilaku seks pranikah adalah hubungan seks antara pria dan wanita meskipun tanpa adanya ikatan selama ada ketertarikan secara fisik. Maslow (dalam Hall & Lindzey, 1993) bahwa terdapat kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi manusia, salah satunya adalah kebutuhan fisiologis mencakup kebutuhan dasar manusia dalam bertahan hidup, yaitu kebutuhan yang bersifat instinktif ini biasanya akan sukar untuk dikendalikan atau ditahan oleh individu, terutama dorongan seks.
Lebih lanjut Cynthia (dalam Wicaksono, 2005) seks juga diartikan sebagai hubungan seksual tanpa ikatan pada yang menyebabkan berganti-ganti pasangan.
Sedangkan menurut Sarwono (2003) menyatakan, bahwa seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis, mulai dari tingkah laku yang dilakukannya seperti sentuhan, berciuman (kissing) berciuman belum sampai menempelkan alat kelamin yang biasanya dilakukan dengan memegang payudara atau melalui oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama (necking, dan bercumbuan sampai menempelkan alat kelamin yaitu dengan saling menggesek-gesekan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama (petting, dan yang sudah bersenggama (intercourse), yang dilakukan diluar hubungan pernikahan.
Berdasarkan penjabaran definisi di atas maka dapat disimpulkan pengertian seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan di luar hubungan pernikahan mulai dari necking, petting sampai intercourse dan bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual dalam masyarakat yang tidak bisa diterima secara umum.
          PENYEBAB PERILAKU SEKS BEBAS
          Penyebab perilaku seks bebas sangat beragam. Pemicunya bisa karena pengaruh lingkungan, sosial budaya, penghayatan keagamaan, penerapan nilai-nilai, faktor psikologis hingga faktor ekonomi. Adapun beberapa penelitian mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku seks bebas menurut Hyde (1990) yaitu:
Usia
            Makin dewasa seseorang, makin besar kemungkinan remaja untuk melakukan hubungan seks bebas. Hal ini dikarenakan pada usia ini adalah potensial aktif bagi mereka untuk melakukan perilaku seks bebas.
Usia yang muda saat berhubungan seksual pertama
            Semakin muda usia pada hubungan seksual yang pertama cenderung untuk lebih permisif daripada mereka yang lebih dewasa pada hubungan seksualnya yang pertama.
Usia saat menstruasi pertama
            Makin muda saat usia menstruasi pertama, makin mungkin terjadinya hubungan seks pada remaja. Perubahan pada hormon yang terjadi seiring dengan menstruasi berkontribusi pada meningkatkatnya keterlibatan seksual pada sikap dan hubungan dengan lawan jenis.
Agama
            Kereligiusan dan rendahnya sikap serba boleh dalam perilaku seks berjalan sejajar seiringan. Clayton & Bokemier meneliti bahwa sikap permisif terhadap hubungan seks bebas dapat dilihat dari aktivitas keagamaan dan religiusitas (Rice, 1990).
Pacar
            Remaja yang memiliki pacar lebih mungkin untuk melakukan seks bebas daripada remaja yang belum memiliki pacar.
Kencan yang lebih awal
            Remaja yang memiliki kencan lebih awal atau cepat dari remaja yang seumurannya memiliki kemungkinan untuk bersikap permisif dalam hubungan seks bebas. Untuk menjadi lebih aktif secara seksual dan untuk memiliki hubungan dengan lebih banyak pasangan daripada mereka yang mulai pacaran pada usia yang lebih lanjut.
Pengalaman pacaran/kencan (hubungan afeksi)
            Individu yang menjalin hubungan afeksi/pacaran dari umur yang lebih dini, cenderung lebih permisif terhadap perilaku seks bebas begitu juga halnya dengan individu yang telah lebih banyak berpacaran dari individu yang berusia sebaya dengannya.
Orang tua
            Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukkan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka pada anak, malah cenderung membuat jarak pada anak mengenai masalah seks.
Teman sebaya (peers group)
            Remaja cenderung untuk membuat standar seksual sesuai dengan standar teman sebaya secara umum, remaja cenderung untuk menjadi lebih aktif secara seksual apabila memiliki kelompok teman sebaya yang demikian, serta apabila mereka mempercayai bahwa teman sebayanya aktif secara seksual (disamping kenyataan bahwa teman sebayanya sebenarnya memang aktif atau tidak secara seksual) pengaruh kelompok teman sebaya pada aktivitas seksual remaja terjadi melalui dua cara yang berbeda, namun saling mendukung, pertama, ketika kelompok teman sebaya aktif secara seksual, mereka menciptakan suatu standar normatif bahwa hubungan seks bebas adalah suatu yang dapat diterima, kedua, teman sebaya menyebabkan perilaku seksual satu sama lainnya secara langsung, baik melalui komunikasi diantara teman ataupun dengan pasangan seksualnya.
Kebebasan
            Kebebasan sosial dan seksual yang tinggi berkorelasi dengan sikap permisif dalam seks yang tinggi.
Daya tarik seksual
            Mereka yang merasa paling menarik secara seksual dan sosial ternyata memiliki tingkat yang paling tinggi dalam sikap permisif dalam melakukan seks bebas.
Standar orang tua vs standar teman
            Remaja yang orangtuanya konservatif dan menjadikan orangtua sebagai acuan yang utama lebih kurang kemungkinannya untuk melakukan seks bebas daripada mereka yang menjadikan teman sebaya sebagai acuan utama.
Saudara kandung
            Remaja, secara khusus remaja puteri dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama.
Gender
            Remaja puteri cenderung bersikap permisif dalam hal seksual daripada remaja pria. Remaja puteri lebih menekankan pada kualitas hubungan yang sedang dijalin sebelum terjadinya seks bebas.
Ketidakhadiran ayah
            Remaja secara khusus yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga tanpa ayah lebih mungkin untuk mencari hubungan seks bebas sebagai alat untuk menemukan afeksi dan persetujuan sosial daripada remaja yang tumbuh dengan adanya ayah.
Ketidakhadiran orang tua
            Jika ada remaja yang berperilaku seks bebas, itu hanya bebasnya pergaulan, dan mungkin penyebabnya dari faktor bimbingan dan pola asuh dari orangtua di rumah yang tidak peduli atau tidak terbuka untuk membicarakan masalah seks pada anaknya, padahal disaat ini dunia remaja semakin bebas. Pada keluarga yang berada di kota besar, sudah merupakan suatu pola kehidupan yang wajar di mana ayah dan ibu bekerja. Hal tersebut seringkali mengakibatkan kehidupan anak-anak mereka kurang mendapatkan pengawasan orang tua dan memiliki kebebasan yang terlalu besar.
Kecenderungan pergaulan yang makin bebas
            Di pihak lain, tidak dapat dipungkiri adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria.
Penyebaran Informasi Melalui Media Massa
            Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya tekhnologi yang semakin berkembang (video kaset, foto kopi, vcd, hp, internet) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa.
Hasil  penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Bahayanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum , tampaknya berkembang semakin serius. Penelitian yang dilakukan Dr Boyke, pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke Klinik Pasutri, tercatat sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dampak Prilaku Seks Bebas

Maraknya seks bebas di kalangan remaja membuat banyak pihak sangat prihatin. Salah satunya adalah Ketua Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta Ny Hj Ciptaningsih Utaryo. Pasalnya,  hal itu akan menimbulkan masalah baru bukan hanya bagi wanita remaja itu sendiri, tapi juga pada anak-anak yang akan dilahirkan. Terlebih anak yang lahir tersebut merupakan anak yang tidak dikehendaki, sehingga ada kecenderungan akan ditelantarkan orang tua.

Selain itu,tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Menurut, Siswanto A Wilopo, sekjen IPADI dan Deputi KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat, ada 15 juta perempuan remaja melahirkan anak dan sebagian dari mereka sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Setiap tahun, 500.000 perempuan meninggal dunia karena melahirkan dan lebih dari 65.000 diantaranya adalah remaja perempuan meninggal karena aborsi tidak aman.

Dari kasus konsultasi yang masuk ke PKBI, permasalahan remaja terutama yang berkaitan dengan seksualitas telah sedemikian jauh Dan mencapai tahap beresiko tinggi. Walaupun kasus-kasus seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), HIV, penyakit menular seksual (PMS), bahkan kasus terbanyak, akan tetapi jumlah remaja yang telah mengalami hal-hal tersebut telah mencakup dan membuat kita prihatin serta perlu waspada. Apalagi kalau kita menyadari kalau jumlah kasus yang muncul dan diketahui hanya merupakan fenomena gunung es, hanya tampak sedikit di permukaan, kalau kita lengah tiba-tiba semuanya sudah terlambat. Karena seringnya remaja dijadikan target, penularan virus HIV pada usia 14 – 20 tahun mencapai  60 persen sendiri karena suntikan (narkoba).

Penanganan
Penduduk usia 15-24 tahun adalah masa depan dunia. Kalau saja mereka berperilaku produktif dan terpuji akan menjadi maslahah (kebaikan) bagi bangsa. Namun bila sebaliknya, akan menjadi masalah bagi bangsa,” ungkap Rozy Munir, Ketua Umum IPADI (Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia) saat berbicara dalam seminar Pengembangan SDM Menuju Penduduk Berkualitas memperingati hari Kependudukan Sedunia pada tanggal 11 Juli 2003 lalu di Auditorium BKKBN Jakarta.

Masalah remaja memang menentukan masa depan bangsa. Oleh karena itu, dalam peringatan hari kependudukan sedunia tahun ini mengambil tema “Kesehatan Remaja dan Seksualitas Remaja”. Saat ini , sekitar satu miliar penduduk usia remaja memasuki perilaku reproduksi yang dapat membahayakan atau justru mengancam kehidupannya.

Lalu, bagaimana sikap kita mengatasi permasalahan yang ada di kalangan remaja? “Berikan pemahaman yang jelas tentang masalah kesehatan reproduksi. Karena, sebagian besar remaja melakukan perilaku kehidupan reproduksi tidak sehat karena belum tahu benar pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja,” tukas Siswanto (Sekjen IPADI).

Hal senada diungkapkan Dr Bernard Coquelin, representatif UNFPA (United Nations Population Fund), bahwa untuk menekankan tingginya jumlah penderita HIV pada remaja di dunia adalah dengan memberikan pendidikan, informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi. “Akan dikemanakan remaja kita, bila setiap hari ada 6.000 remaja baik laki-laki maupun perempuan terinveksi virus HIV. Ini menunjukkan bahwa mereka butuh informasi ini.”

Sebagian besar, remaja yang telah aktif secara seksual (baik yang berstatus kawin atau tidak) pada usia kurang dari 20 tahun, belum menyentuh pelayanan reproduksi (termasuk pelayanan kontrasepsi), pencegahan dan perawatan kesehatan seksual menular dan HIV/AIDS serta perawatan kehamilan dan persalinan. Sehingga, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas.

Hal lain yang diperlukan dalam menangani kasus-kasus seks bebas yang semakin marak adalah, dengan memberikan pemahaman yang tepat tentang seks. Pengetahuan  seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Bagi sebagian orang, seks memang masih dianggap tabu dan konsumsi orang dewasa. Sehingga, berbicara mengenai seks harus secara pribadi. Padahal justru pada masa remaja, pendidikan seks harus dimulai diberikan. Pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan organ-organ seks, baik primer maupun sekunder. Jika tidak diberikan pengetahuan yang cukup, ditakutkan malah salah arah. Alasan lain adalah, bahwa pengetahuan seks sangat penting dan bagaimanapun seks berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Jika konsep mengenai seks yang diterima salah, maka banyak akibat dan risikonya. Serta, penanganan aktivitas seks juga bisa tidak tepat.
Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi kata “seks” itu sendiri. Seks memang memiliki definisi yang luas. Namun jika kita berbicara mengenai seks secara keseluruhan, maka yang dimaksudkan adalah pendidikan mengenai jenis kelamin.


Dapat Kita Simpulkan bahwa Seks bebas hanya dapat memberikan kebahagiaan sesaat tapi penderitaan dunia akhirat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar